Kolom

Pesan Sebundel Naskah

 

Umur naskah proposal itu sekitar tujuh tahun. Pada halaman judul tertera: “Proposal Musyawarah Anggota dan KPJ; Keakraban Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta 2002”.

Tak sengaja saya temukan naskah itu pada rak kecil di sebuah gubuk kecil pula. Ia terselip di antara tumpukan kertas-kertas bekas.

Pertama melihatnya saya terhenyak. Bagaimana naskah itu ada di sana? Awalnya, saya pikir naskah proposal dan gubuk kecil itu tak berkaitan. Belakangan seorang kawan yang tinggal di gubuk kecil itu berkata “pembuatnya dulu tinggal bersama kami”.

Setelah menemukan naskah proposal itu, tak berpanjang akal saya memagutnya. Membukanya lembar demi lembar.

Kertasnya telah lusuh, kusam, pudar, dan berbercak kecokelatan. Pada halaman kedua tertulis tanggal dibuatnya: 10 Oktober 2002. Halaman selanjutnya menyajikan abstraksi, sekapur sirih bertajuk “Bangun Persekawanan, Rajut Perubahan”.

Judulnya memang terkesan provokatif atau barangkali sekedar stimuli bagi pembacanya. Namun, di baris-baris awal tertulis

Di mana ada hidup di situ ada pergerakan

Di mana ada pergerakan di situ ada korban

Dan setiap korbana ‘kan membawa kebaikan dan perubahan.

Kalimat tersebut akrab betul dengan pergerakan. Dan sebab itu, terasa energi meluap-luap darinya, mentransfer semangat dari kata ke badan yang ‘mapan’.

Terbawa luapan energinya, saya kian serius membaca halaman itu. Si penulis sepertinya khawatir dan ragu [?]

Ia dipenuhi kecemasan: tertilapnya budaya dan sistem sosial asali masyarakat Jambi. Sebab, “Di tengah perkembangan dunia yang tidak lagi mengenal batas teritorial sebua negara-bangsa, setiap informasi, budaya, atau pun ideologi bebas berlalu-lalang di hadapan kita”, tulisnya.

Pada kondisi demikian, masyarakat Jambi bisa-bisa hanya berperan sebagai penonton absurd. Teramat absurdnya, dirinya tak dikuasi lagi, bahkan tak dikenali lagi, lebih-lebih orang lain. Mereka dibikin lupa diri, lupa identitas kejambiannya.

Yang mengagumkan si penulis tetap optimis. Ia yakin “seorang terdidik” mampu menjawab kekhawatiran itu. Dan ia lebih yakin lantaran para terdidik telah tergabung dalam Keluarga Pelajar Jambi (KPJ) Yogyakarta.

Tak diragukan, ia banyak berharap pada mereka. Terlebih, menurutnya KPJ berfungsi “sebagai kawah candradimuka kaderisasi calon pemimpin masyarakat Jambi ke depan” yang “harus selalu peka terhadap perkembangan atau perubahan yang terjadi di masyarakat Jambi”.

Kepekaan menjadikan para terdidik terintegralkan dengan masyarakatnya, sehingga mereka tak menjadi “elit-elit baru yang akan menindas rakyatnya”. Menguatkan asumsinya ini, ia mengutip Romo Mangun. ”Percuma kita memiliki sekian juta sarjana yang cerdas tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh, segeralah kaum sekolah itu akan menjadi penindas-penindas baru”

 “Namun”, sambungnya “semua gagasan tersebut di atas tanpa didukung perangkat-perangkat kerja yang solid dan kuat tidak akan mendapatkan hasil apa-apa, sehingga perlu dilakukan konsolidasi oraganisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi  dan program kerjanya. Hanya organisasi yang solid dan dinamis yang mampu melakukan perubahan dan tidak akan pernah terjadi perubahan dengan cara sendiri-sendiri. Maka bersatulah semua pelajar dan mahasiswa Jambi. Bangun persekawanan dan rajut perubahan”. Inilah alasan dibuatnya naskah proposal ini, tujuh tahun lalu.

 

Melihat KPJ sekarang, saya tak tahu apa penilaian si penulis. Mungkin ia bangga, mungkin ia kecewa. Sudah banyak perubahan di tubuh KPJ sejak naskah itu dibuat. Sebentar-sebentar maju, sebentar-sebentar mundur.

 

Kendati demikian, harapan belum gugur dan angan “merajut perubahan” tetap bergumul. Malam tak abadi, fajar menyingsing: keniscayaan. Dan optimis tak perlu digadai dengan pesimis. Tak perlu juga kita jadi “jadi pengecut yang berlari ketakutan” karena kita, “para terdidik” bukan penonton absurd!

 

 Yah …. tugas KPJ memang masygul.

2 Tanggapan

  1. KPJ bakal diingat manakala ia menyelinap dalam setiap denyut nadi dan gerak langkah mahasiswa jambi yogykarta. kawan, mari bersama merebut cita tentang idelanya KPJ bagi kebangunan Jambi tercinta. Kalau yang terjadi justru sebaliknya, maka KPJ tak ubah sebuah proposal tak berguna dan hancur lebur di gilas oleh waktu. PR ini tidak untuk satu orang, tapi semua yang masih ingin disebut intelektual organik masyarakat jambi.

  2. oke lah bung! pokoknya revolusi, belakanganlah skripsi. Siiip

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.